Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Padi Kena Beluk? Ini Rekomendasi Insektisida dan Dosis Tepat untuk Menyelamatkannya



Beluk adalah gejala kerusakan pada tanaman padi akibat serangan hama penggerek batang padi (larva dari ngengat penggerek batang). Serangan ini terjadi khusus pada fase generatif (saat padi mulai bunting hingga keluar malai/bulir).

Ciri-Ciri Utama Serangan Beluk

  • Malai Berwarna Putih & Kosong: Malai padi yang baru keluar tidak terisi bulir (hampa) dan berubah warna menjadi putih keabuan.

  • Malai Tegak:   Karena bulirnya hampa dan tidak memiliki bobot, malai padi tetap berdiri tegak dan tidak merunduk sebagaimana mestinya.

  • Easily Pulled Out (Mudah Dicabut): Tangkai malai sangat mudah dicabut dari dalam pelepah karena bagian dalam batangnya sudah digerek dan diputus oleh ulat/larva.



Perbedaan: Beluk vs. Sundep

Sama-sama disebabkan oleh ulat penggerek batang padi, tetapi penyebutannya berbeda tergantung tahap pertumbuhan tanaman:

Hama / GejalaFase SeranganTanda Utama
SundepVegetatif (tanaman muda / masa anakan)Pucuk/daun tengah menguning, mengering, dan mati (deadheart).
BelukGeneratif (tanaman bunting / berbunga)Malai mengering, berwarna putih, dan bulir hampa (whitehead).

Cara Pengendalian dan Pencegahan

  1. Pola Tanam Serempak:   Menanam padi secara serempak dalam satu kawasan hamparan untuk memutus rantai pakan larva.

  2. Sanitasi Lahan: Memotong jerami sisa panen serendah mungkin dan menggenangi lahan/membajaknya agar kepompong hama mati.

  3. Perangkap Lampu (Light Trap): Memasang perangkap lampu pada malam hari untuk menangkap ngengat dewasa sebelum sempat bertelur.

  4. Penggunaan Insektisida: Jika tingkat serangan melebihi ambang batas, aplikasikan insektisida sistemik berbahan aktif sesuai anjuran (seperti klorantraniliprol atau fipronil) saat fase bunting/sebelum malai keluar secara menyeluruh.

Untuk mencegah dan mengatasi serangan beluk (yang disebabkan oleh ulat penggerek batang padi), pendekatan terbaik adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT)—yaitu gabungan tindakan pencegahan (pencegahan dini) dan tindakan kimia/medis (jika sudah terserang).

1. Tindakan Pencegahan (Paling Ampuh & Efektif)

Mencegah selalu lebih baik, karena jika malai sudah memutih (beluk), bulir tersebut sudah tidak bisa dipulihkan kembali.

  • Tanam Serempak: Usahakan jadwal tanam tidak berbeda lebih dari 10–14 hari dengan tetangga sekitar. Ini mencegah ngengat pembawa hama terus "berpindah lapak".

  • Potong Jerami Rendah & Olah Tanah: Saat panen, potong jerami serendah mungkin dekat permukaan tanah, lalu genangi air dan bajak. Ini membunuh larva/kepompong yang bersembunyi di pangkal batang.

  • Perangkap Lampu (Light Trap): Pasang lampu di pinggir sawah pada malam hari di atas wadah berisi air detergen. Ngengat (kaper) penggerek batang akan tertarik dan tenggelam sebelum sempat bertelur.

  • Petik Kelompok Telur: Saat fase vegetatif hingga bunting awal, rajin-rajinlah mengecek daun. Jika ada kelompok telur berupa benjolan kecil kecokelatan tertutup bulu halus, segera petik dan musnahkan.

2. Penggunaan Insektisida (Pencegahan Kimia & Pengobatan)



Penyemprotan paling efektif dilakukan pada fase bunting hingga sebelum malai keluar 100% (saat ngengat mulai aktif bertelur atau ulat baru menetas dan belum masuk dalam batang).

A. Insektisida Sistemik (Semprot / Cair)

Sangat dianjurkan karena bahan aktif diserap tanaman, sehingga ulat yang menggerek di dalam batang tetap mati saat memakan jaringan padi.

  • Bahan Aktif Klorantraniliprol (Contoh merek: Prevathon, Virtako)

    Sangat efektif untuk memutus rantai telur dan larva penggerek batang.

  • Bahan Aktif Fipronil (Contoh merek: Regent)

    Bagus untuk pencegahan dan pengobatan awal serangan.

  • Bahan Aktif Dimehipo / Cartap Hydrochloride (Contoh merek: Spontaneous, Padan)

    Memiliki efek kontak dan sistemik yang cepat menembus jaringan tanaman.

B. Insektisida Tabur / Granul (Ditabur Bersama Pupuk)

Cocok digunakan pada fase vegetatif (mencegah sundep) atau saat fase awal bunting jika lahan tergenang air cukup.

  • Bahan Aktif Karbofuran / Fipronil Granul (Contoh merek: Furadan, Regent 0.3GR)


Tips Utama Aplikasi Insektisida

Kunci Waktu (Timing): Semprotlah ketika Anda mulai melihat banyak ngengat/kaper terbang di sekitar sawah pada sore hari, ATAU saat padi dalam masa bunting tua (sebelum malai muncul seluruhnya). Jika malai sudah terlanjur keluar dan memutih, penyemprotan tidak akan bisa menyelamatkan malai yang sudah rusak tersebut, namun hanya mencegah penularan ke rumpun lain.

Jika sudah muncul tanda serangan beluk (malai memutih), itu tandanya ulat sudah berada di dalam batang dan merusak pembuluh makan tanaman. Malai yang sudah putih tidak bisa disembuhkan lagi, sehingga fokus pengaplikasian saat ini adalah menyelamatkan rumpun/malai lain yang belum terserang agar hama tidak menyebar luas.

Berikut adalah panduan frekuensi dan aturan pengaplikasiannya:

1. Frekuensi & Jeda Penyemprotan

Jika serangan sudah terlihat di lahan, penyemprotan dilakukan 2 sampai 3 kali dengan aturan jeda waktu sebagai berikut:

  • Aplikasi Pertama (Segera/Hari Ini):

    Lakukan penyemprotan secepat mungkin begitu gejala beluk pertama kali terlihat. Gunakan insektisida sistemik agar racun meresap ke dalam jaringan batang dan membunuh larva yang berada di dalam.

  • Aplikasi Kedua (5–7 Hari Setelah Aplikasi Pertama):

    Penyemprotan ulang ini wajib dilakukan untuk membunuh telur-telur baru yang baru menetas menjadi larva muda sebelum sempat masuk ke dalam batang padi lainnya.

  • Aplikasi Ketiga (Opsional / Jika Serangan Parah):

    Dilakukan 5–7 hari setelah aplikasi kedua, hanya jika di lapangan masih ditemukan ngengat (kaper) yang terbang aktif atau gejala memutih bertambah banyak.

2. Syarat Penting Agar Penyemprotan Berhasil

1. Wajib Gunakan Insektisida Sistemik

Pada kondisi ini, jangan gunakan racun kontak murni, karena ulat tersembunyi aman di dalam batang. Pilih racun dengan sifat Sistemik atau Translaminar (seperti bahan aktif Klorantraniliprol, Fipronil, atau Dimehipo).

2. Tambahkan Perekat / Penembus (Surfaktan)

Campurkan bahan perekat/penembus ke dalam tangki semprot. Ini membantu larutan racun menembus lapisan lilin daun/pelepah dan masuk ke celah-celah batang tempat ulat bersembunyi.

3. Waktu Penyemprotan Terbaik

Semprot pada pagi hari (jam 06.00 – 09.00) saat embun mulai mengering, atau sore hari (jam 15.30 – 17.30) ketika ngengat penggerek batang mulai aktif bergerak.

Catatan Penting

Jika tanaman padi sudah memasuki fase pengisian bulir akhir (padi mulai menguning seluruhnya), pengaplikasian pestisida sudah tidak lagi efisien secara biaya (rugi biaya obat) dan berisiko meninggalkan residu kimia pada beras saat dipanen.