Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mengenali Penggerek Batang Padi - Penyebab Sundep, Beluk, dan Dampaknya pada Hasil Panen


Penggerek Batang Padi: Kenali Gejala Sundep dan Beluk Beserta Dampaknya pada Hasil Panen

Penggerek batang padi merupakan salah satu hama utama yang sering menjadi ancaman serius bagi petani di Indonesia. Serangan hama ini dapat terjadi sejak tanaman masih berada di persemaian hingga menjelang panen. Jika tidak ditangani dengan baik, penggerek batang mampu menurunkan produktivitas padi secara signifikan.

Apa Itu Penggerek Batang Padi?

Penggerek batang padi adalah hama yang menyerang bagian dalam batang tanaman padi. Pada fase larva, hama ini hidup dan berkembang di dalam batang sehingga sulit terdeteksi sejak awal. Setelah memasuki fase dewasa, larva akan berubah menjadi ngengat yang umumnya berwarna kuning atau cokelat.

Ngengat penggerek batang lebih aktif pada malam hari. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan sekitar tiga kelompok telur selama masa hidupnya yang berlangsung antara 7 hingga 10 hari. Setiap kelompok telur dapat berisi sekitar 100 butir dan biasanya diletakkan pada permukaan daun padi. Telur-telur tersebut berbentuk pipih menyerupai cakram dan tertutup bulu halus berwarna cokelat muda yang berasal dari bagian perut induknya.

Gejala Serangan Penggerek Batang Padi

Tingkat kerusakan akibat penggerek batang bergantung pada fase pertumbuhan tanaman saat serangan terjadi.

  • Pucuk Layu & Menguning: Daun bagian tengah/pucuk teratas berubah warna menjadi kuning, kecokelatan, lalu mengering.

  • Batang Mudah Dicabut: Pucuk yang terserang sangat mudah ditarik atau terlepas dari rumpunnya 

  • Bekas Gigitan Larva: Jika pangkal batang dibuka, terdapat larva (ulat) kecil atau kotoran bekas gigitan di dalam rongga batang.


  • 1. Sundep pada Fase Vegetatif

    Apabila serangan terjadi ketika tanaman masih muda atau berada pada fase vegetatif, anakan padi akan mengering, berubah warna menjadi cokelat, kemudian mati. Kondisi ini dikenal dengan istilah sundep.

    Meski terlihat cukup parah, tanaman padi masih memiliki kemampuan untuk membentuk anakan baru sebagai bentuk kompensasi. Berdasarkan berbagai penelitian, tanaman masih mampu mengganti kerusakan hingga sekitar 30% pada fase ini, sehingga kehilangan hasil panen relatif tidak terlalu besar.

    2. Beluk pada Fase Generatif

    Serangan yang terjadi saat tanaman memasuki fase pembentukan malai jauh lebih merugikan. Malai yang terserang akan berubah menjadi putih, kosong, dan tidak menghasilkan bulir padi. Gejala ini dikenal sebagai beluk.

    Setiap peningkatan 1% gejala beluk dapat menyebabkan penurunan hasil panen sekitar 1–3%, dengan rata-rata kehilangan mencapai 1,2%. Risiko kerugian akan semakin besar apabila populasi ngengat meningkat bersamaan dengan fase bunting tanaman padi.

    Penyebaran Penggerek Batang Padi di Indonesia

    Hama penggerek batang ditemukan hampir di seluruh wilayah sentra produksi padi di Indonesia. Keberadaannya dapat dijumpai sepanjang tahun pada berbagai ekosistem persawahan, baik sawah irigasi maupun tadah hujan.

    Data serangan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa luas areal yang terdampak mencapai sekitar 151.577 hektare dengan intensitas serangan sekitar 20,5%. Hal tersebut membuktikan bahwa penggerek batang merupakan salah satu hama penting yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam budidaya padi.

    Siklus Hidup Penggerek Batang Padi

    Siklus hidup hama ini terdiri atas beberapa tahap, yaitu:

    • Telur diletakkan secara berkelompok pada daun padi.

    • Larva menetas kemudian masuk ke dalam batang tanaman dan mulai memakan jaringan di dalamnya.

    • Umumnya hanya terdapat satu larva pada setiap anakan padi.

    • Setelah menyelesaikan fase larva, hama berubah menjadi pupa.

    • Pupa berkembang menjadi ngengat dewasa yang kembali berkembang biak dan mengulang siklus serangan.

    Memahami siklus hidup penggerek batang sangat penting agar petani dapat menentukan waktu pengendalian yang paling efektif.

    Cara Mengatasi Sundep pada Tanaman Padi Akibat Serangan Penggerek Batang

    Sundep merupakan salah satu gejala yang muncul akibat serangan hama penggerek batang padi pada fase vegetatif. Jika tidak segera dikendalikan, hama ini dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerusakan pada sebagian besar tanaman di lahan sawah.

     Oleh karena itu, diperlukan langkah pengendalian yang tepat, mulai dari penanganan dini hingga pencegahan jangka panjang.

    1. Lakukan Penanganan Sejak Gejala Awal Muncul

    Semakin cepat serangan sundep ditangani, semakin besar peluang tanaman padi untuk pulih dan tetap berproduksi dengan baik.

    Buang Tanaman yang Terserang

    Segera cabut anakan padi yang menunjukkan gejala sundep, seperti pucuk menguning, layu, atau mengering. Periksa juga keberadaan kelompok telur penggerek yang biasanya menempel di permukaan daun.

     Kumpulkan seluruh bagian yang terserang, kemudian musnahkan dengan cara dibakar atau dikubur jauh dari area persawahan agar hama tidak berkembang kembali.

    Atur Ketinggian Air Sawah

    Pengaturan air menjadi salah satu cara sederhana namun cukup efektif untuk menekan populasi penggerek batang.

     Genangi lahan dengan air setinggi sekitar 5–10 cm selama beberapa hari.

     Kondisi tersebut dapat mengganggu perkembangan larva maupun kepompong yang berada di bagian pangkal batang tanaman.

    Gunakan Insektisida Sistemik Secara Tepat

    Apabila serangan mulai meluas, penggunaan insektisida sistemik dapat menjadi pilihan karena bahan aktifnya mampu diserap oleh jaringan tanaman sehingga larva yang berada di dalam batang ikut terpapar.

    Beberapa bahan aktif yang umum digunakan antara lain:

    • Klorantraniliprol

    • Dimehipo

    • Fipronil

    • Thiamethoxam

    Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00–09.00 atau menjelang sore hari ketika ngengat penggerek mulai aktif.

    2. Manfaatkan Pengendalian Hayati dan Ramah Lingkungan

    Selain pestisida kimia, petani juga dapat menerapkan metode pengendalian hayati yang lebih aman bagi lingkungan dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem sawah.

    Aplikasi Jamur Entomopatogen

    Jamur seperti Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae dikenal mampu menginfeksi serta membunuh larva penggerek batang.

    Penyemprotan dilakukan pada bagian pangkal rumpun padi, yaitu lokasi utama tempat larva berkembang.

    Pelepasan Parasitoid Telur

    Pemanfaatan parasitoid dari genus Trichogramma menjadi salah satu teknik pengendalian biologis yang efektif.

    Serangga ini menyerang telur penggerek batang sehingga hama tidak sempat menetas menjadi larva yang merusak tanaman.

    Gunakan Pestisida Nabati

    Petani juga dapat memanfaatkan bahan alami sebagai alternatif pengendalian. Ekstrak daun mimba, umbi gadung, maupun daun tembakau dapat dijadikan pestisida nabati. Tambahkan sedikit sabun sebagai perekat agar larutan menempel lebih lama pada permukaan tanaman.

    3. Terapkan Pencegahan Agar Serangan Tidak Berulang

    Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menekan populasi penggerek batang sejak awal musim tanam.

    Terapkan Pola Tanam Serempak

    Penanaman padi secara serempak dalam satu hamparan dapat memutus siklus hidup hama. Sebaiknya perbedaan waktu tanam antarpetani tidak lebih dari 10–14 hari sehingga penggerek tidak memiliki tanaman inang secara terus-menerus.

    Bersihkan Sisa Tanaman Setelah Panen

    Sesudah panen, lakukan pengolahan tanah dengan membajak sawah dan membenamkan tunggul padi ke dalam tanah yang tergenang air. 

    Cara ini membantu mematikan kepompong yang masih berada di dalam batang sehingga populasinya berkurang pada musim tanam berikutnya.

    Berikan Pupuk Secara Berimbang

    Pemupukan yang tepat sangat berpengaruh terhadap ketahanan tanaman terhadap serangan hama. Hindari pemberian pupuk nitrogen, terutama urea, secara berlebihan karena dapat membuat jaringan tanaman lebih lunak dan lebih disukai oleh penggerek batang.

    Kesimpulan

    Pengendalian sundep pada tanaman padi tidak cukup hanya mengandalkan insektisida. 

    Hasil yang lebih optimal dapat diperoleh dengan menggabungkan sanitasi lahan, pengaturan air, pemanfaatan agen hayati, penggunaan pestisida nabati, serta penerapan budidaya yang baik. 

    Dengan langkah pengendalian yang terpadu, risiko kerusakan akibat penggerek batang dapat ditekan sehingga produktivitas padi tetap terjaga.

    Penggerek batang padi merupakan hama berbahaya yang dapat menyerang tanaman sejak fase awal pertumbuhan hingga menjelang panen. 

    Serangan pada fase vegetatif menimbulkan gejala sundep, sedangkan pada fase generatif menyebabkan beluk yang berdampak langsung pada penurunan hasil panen. 

    Oleh karena itu, pemantauan rutin, pengenalan gejala sejak dini, dan penerapan pengendalian yang tepat menjadi langkah penting untuk meminimalkan kerugian serta menjaga produktivitas tanaman padi.